HARI GIZI NASIONAL 25 JANUARI 2013 MEWUJUDKAN GIZI SEIMBANG UNTUK MENGATASI MASALAH GIZI GANDA

Selamat pagi. 
Sahabat, hari ini 25 Januari 2013 kita memperingati Hari Gizi Nasional. Menurut saya, tingkat kecukupan atau ketidakcukupan gizi anak-anak bangsa harus menjadi perhatian setiap orang yang berkesempatan menjadi pemimpin di Republik Indonesia.

Baru-baru ini, lembaga South East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) menemukan bahwa jumlah anak yang pertumbuhannya terhambat karena kekurangan gizi di Indonesia terbilang tinggi dibandingkan tetangga kita Malaysia, Vietnam dan Thailand.

Berdasarkan data dari SEANUTS, 34 persen balita dan 30 persen anak sekolah di Indonesia terhambat pertumbuhannya. Sedangkan di ketiga negara tetangga kita angka ini berkisar antara 11-12 persen.

Jika kita tidak menghadapi masalah ini dengan kebijakan yang tepat, jika kita terus membenam kepala kita di dalam pasir, maka bangsa kita akan terus kalah sebelum bertanding. Mimpi kita untuk menang di lapangan sepakbola melawan Malaysia, mungkin akan terus menjadi mimpi.





HARI GIZI NASIONAL 25 JANUARI 2013
MEWUJUDKAN GIZI SEIMBANG UNTUK
MENGATASI MASALAH GIZI GANDA



I.  LATAR BELAKANG

Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009  tentang Kesehatan mengamanatkan perlunya mewujudkan gizi seimbang sebagai salah satu upaya perbaikan gizi. Lebih lanjut Undang-undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pangan mengamanatkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dan mendukung hidup sehat, bugar, cerdas, aktif dan produktif.

Riskesdas 2010 (Balitbangkes 2011) mengungkap bahwa pada semua kelompok umur dan jenis kelamin di Indonesia terjadi masalah gizi kurang dan gizi lebih di Indonesia. Pada anak balita terdapat 17.9% yang mengalami gizi kurang (underweight), 36.5 mengalami stunting dan  5.8% mengalami gizi lebih (overweight). Pada anak usia 6-12 tahun sejumlah 12.2% tergolong kurus dan 9.2% tergolong gemuk (gizi lebih). Pada orang dewasa  12.6% tergolong  kurus (IMT) dan 21.7% tergolong gemuk. Hal ini menunjukkan masalah gizi ganda masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dari segi konsumsi pangan, juga tampak masih belum memadai  mutu gizi dan keragaman pangan penduduk, yang ditunjukkan oleh Skor Pola Pangan Harapan (Skor PPH) 77.3 pada tahun 2011 (BKP Kementan, 2012). Rendahnya skor PPH ini disebabkan masih rendahnya  konsumsi pangan hewani, sayur dan buah. Data tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat Indonesia yang belum sadar gizi dalam menerapkan gizi seimbang.

Dilain pihak berbagai kajian ilmiah membuktikan bahwa kekurangan dan kelebihan gizi pada masa janin sampai usia dua tahun berdampak buruk pada kualitas manusia pada usia selanjutnya.  Gizi kurang dan pendek pada masa 1000 hari pertama kehidupan berdampak pada peningkatan risiko kegemukan dan risiko penyakit tidak menular, seperti hipetensi, hiperkolesterol, hiperglikemia dll. Gizi lebih (kegemukan) pada usia remaja dan dewasa juga meningkatkan risiko terjadinya berbagai penyakit tidak menular yang akan mempengaruhi  produktifitas dan usia harapan hidup.  Sejak tahun 2012, secara global melalui PBB telah dikembangkan upaya percepatan perbaikan gizi ibu dan anak pada 1000 hari pertama kehidupan dengan pendekatan komprehensif (lintas sektor) disebut dengan Scale Up Nutrition (SUN) movement. Upaya ini di Indonesia disebut Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK).

Tujuan gizi seimbang adalah pemenuhan kebutuhan gizi guna mencegah terjadinya gizi kurang dan gizi lebih. Oleh karena itu penerapan gizi seimbang dan perilaku hidup sehat secara berkelanjutan merupakan suatu upaya penting dalam mewujudkan hidup sehat, bugar,  cerdas, aktif dan  produktif.

Post a Comment

Lainnya